Pages

Tuesday, September 8, 2015

TAKDIR DALAM PENINGKATAN SDM




TAKDIR DALAM PENINGKATAN SDM

Makalah ini disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Tauhid
Dosen Pengampu : Ana Fitrotun Nisa, M.Pd.I


Description: D:\inew\baksos\images1.jpg


Oleh :

Alfiyatun Khasanah           (13480034)
Iswatun Khoiriah               (13480090)



PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2014

KATA PENGANTAR


Assalamu’alaikum Wr.Wb

Alhamdulillahirabbil ‘alamin. Tak hentinya ucap syukur kepada Allah SWT yang selalu memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penyusunan makalah “Takdir dalam pengembangan SDM” ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna dan mempunyai banyak kekurangan, untuk kami mohon  agar para pembaca dapat memberikan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Makalah ini di harapkan dapat bermanfaat dan digunakan oleh kita semua, banyak kurangnya kami mohon maaf.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.



                                                                                    Yogyakarta, 16 November 2014
                                                                                                Penyusun


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
                Beriman kepada takdir adalah satu dari pokok-pokok keyakinan yang ditanamkan dalam hati setiap muslimin. Rasulullah SAW menyebut iman kepada takdir sebagai bagian dari rukun iman yang ke-enam.
Tuhan adalah pencipta alam semesta, termasuk di dalamnya manusia sendiri. Selanjutnya Tuhan bersifat Maha Kuasa dan mempunyai kehendak yang bersifat mutlak. Disini timbullah pertanyaan sampai dimanakah manusia sebagai ciptaan Tuhan, bergantung pada kehendak mutlak Tuhan dalam menentukan perjalanan hidupnya? Apakah Tuhan memberi kebebasan kepada manusia dalam mengatur hidupnya ataukah manusia terikat seluruhnya pada kehendak dan kekuasaan mutlak Tuhan. Dan bagaimana konsep yang benar mengenai takdir agar mampu meningkatkan kualitas SDM. Hal inilah yang akan dibahas pada makalah yang berjudul “Takdir dalam Meningkatkan Kualitas SDM”.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa peengertian Takdir ?
2.      Apa saja macam-macam Takdir ?
3.      Apa saja tingkatan Takdir?
4.      Bagaimana konsep takdir dalam peningkatan SDM ?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Dapat mengetahui pengertian Takdir.
2.      Mengetahui macam-macam Takdir.
3.      Mengetahui tingkatan Takdir.
4.      Mengetahui konsep Takdir dalam peningkatan SDM.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Takdir
Takdir dipercayai sebagai bagian dari iman yang harus diyakini keberadaannya oleh setiap muslim. Takdir yang dimaksud disini adalah ketentuan Allah SWT sejak dahulu kala atas segala sesuatu yang pasti akan terjadi sesuai dengan ilmu dan kehendak-Nya.[1]
Takdir menurut arti bahasa maksudnya memiliki makna-makna tersembunyi, الحكم (hukum), القضاء (ketetapan), الظاقلة(kekuatan, daya, potensi),  المقيا س   )ukuran(, التحد يد ) batasan atau ketentuan( yang ada pada sesuatu. Setiap unsur terkecil di alam semesta memiliki hukum atau takdirnya masing-masing yang telah ditetapkan oleh Allah secara rinci dan detail yang berarti juga memiliki hukum, potensi, sifat dan karakteristiknya masing-masing.[2]
$¯RÎ) ¨@ä. >äóÓx« çm»oYø)n=yz 9ys)Î/ ÇÍÒÈ
Sesungguhnya segala sesuatu kami ciptakan serba berukuan (al Qamar 54:49)

Takdir menurut istilah ialah peraturan yang dibuat Tuhan untuk yang segala maujud di alam semesta, yang merupakan undang-undang umum atau kepastian-kepastian yang berkaitan di dalamnya antra sebab dengan musababnya atau antara sebab dan akibatnya.
Takdir bukanlah paksaan dari Allah sebab semua manusia dapat mnentukan pilihan baik dan buruk untuk dirinya sendiri kalau mau. [3]
Jika dikaitkan dengan Qadha’ dan Qadar Allah yang sesuai dengan rukun iman yang ke-enam ialah iman kepada Qadha’ ialah kepastian, dan Qadar ialah ketentuan. Keduanya ditetapkan oleh Allah SWT untuk seluruh makhluk-Nya. Sedangkan maksudnya beriman kepada Qadha’ dan Qadar, artinya setiap manusia (muslim dan muslimat) wajib mempunyai niat dan keyakinan sungguh-sunggh bahwa segala perbuatan makhluk, sengaja maupun tidak sengaja telah ditetapkan olah Allah SWT. Sejak zaman azali, ketentuan itu telah ditulis didalam Lauh Mahfuzh (papan tulis yang terpelihara). Jadi, semua yang akan terjadi sedang atau sudah terjadi di dunia ini semuanya sudah diketahui oleh Allah SWT, jauh sebelum hal itu sendiri terjadi.[4]

B.     Macam-macam Takdir
Takdir dibagi menjadi dua hal yang saling berlawanan, yakni takdir yang tetap (mubram, hatami dan musayyar) dan takdir yang berubah (ghairu mubram atau mu’allaq, dan mukhayyar). Hal ini mengandaikan adanya sesuatu yang ada di dunia ini yang tidak bisa berubah di satu sisi tetapi di sisi lain ada sesuatu yang dapat berubah. Padahal segala sesuatu yang ada di dunia ini saing pengaruh mempengaruhi dan akan hancur, ini berarti segala sesuatu itu bisa berubah dan akan selalu berubah hingga sampai pada kehancurannya.[5]
Takdir beberapa macam, semuanya termasuk kandungan dari tulisan takdir umum dan semuanya kembali kepada ilmu Allah SWT yang mutlak serta mencakup segala sesuatu.
a.       Takdir Azali
Meliputi segala hal dimana sebelum terciptanya langit dan bumi, ketika Allah menciptakan al-qalam dan memerintahkannya menulis segala apa yang ada sampai hari kiamat (QS. Al Hadid : 22).
b.      Takdir ‘Umuri
Takdir yang diberlakukan atas manusia pada awal penciptaannya, rizkinya, perbuatannya, kebahagiaan dan kesengsaraan.
c.       Takdir Sanawi (tahunan)
Takdir yang dicatat pada malam lailatul qadar setiap tahun. Para mufassir menyebutkan bahwa pada malam itu ditulislah semua apa yang akan terjadi pada satu tahun, mulai dari kebaikan, keburukan, rizki, ajal, untuk memilah kejadian dan peristiwa dalam satu tahun, yang kesemuanya telah dicatat dalam lauhul mahfudz (QS Adh Dukhan : 4-5).[6]



C.     Tingkatan-tingkatan Takdir
Takdir atau Qadar mempunyai empat tingkatan :
1.      Al-Ilmu
Allah SWT Maha Mengetahui segala sesuatu. Dia mengetahui apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi dan yang akan terjadi. Tidak satupun luput dari ilmu Allah SWT. Allah SWT berfirman:
uqèd ª!$# Ï%©!$# Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd ( ÞOÎ=»tã É=øtóø9$# Íoy»yg¤±9$#ur ( uqèd ß`»oH÷q§9$# ÞOŠÏm§9$#
Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.(Al-Hasyr:59:22)

2.      Al-Kitabah
Allah SWT ynag Maha Mengetahui telah menuliskan segala sesuatu di Lauh Mahfuzh, dan tulisan itu tetap ada sampai hari Kiamat. Apa yang telah terjadi di masa yang lalu, dan apa yang terjadi sekarang, dan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang sudah dituliskan oleh Allah SWT di Lauh Mafuzh. Allah SWT berfirman:
óOs9r& öNn=÷ès? žcr& ©!$# ãNn=÷ètƒ $tB Îû Ïä!$yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur 3 ¨bÎ) šÏ9ºsŒ Îû A=»tFÏ. 4 ¨bÎ) y7Ï9ºsŒ n?tã «!$# ׎Å¡o
Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu Amat mudah bagi Allah.(Al-Hajj 22:70)
3.      Al-Msyiah
Allah SWT mempunyai kehendak terhadap segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Tidak ada sesuatupun yang terjadi kecuali kehendak-Nya. Apa-apa yang tidak dikehendaki oleh Allah SWT pasti tidak akan terjadi. Di dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menunjukkan masyiatullah yang mutlak. Artinya kalau Allah menghendaki sesuatu tidak ada yang bisa menghalangi kehendak-Nya itu. Begitu juga sebaliknya, kehendak siapapun tidak akn terjadi kalau tidak dikehendaki oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman:



$tBur tbrâä!$t±n@ HwÎ) br& uä!$t±o ª!$# 4 ¨bÎ) ©!$# tb%x. $¸JŠÎ=tã $VJÅ3ym  
Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana (Al-Insan 76:30)
4.      Al-Khalq
Bahwa tidak sesuatu pun di langit dan di bumi melainkan Allah sebagai penciptanya, pemiliknya, pengaturnya dan menguasainya, dalam firman-Nya dijelaskan :
إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصاً لَّهُ الدِّينَ
“Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab dengan kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya”. (QS. Az-Zumar : 2

Iman kepada Taqdir mencakup keempat tingkatan diatas. Artinya segala perbuatan, perkataan termasuk segala hal yang tidak dilakukan manusia diketahui, dituliskan, dikehendaki dan diciptakan oleh Allah SWT.[7]

D.    Konsep takdir dalam peningkatan SDM.
Ada dua dimensi pemahaman tentang takdir yaitu :
a.        Dimensi Ketuhanan
Yaitu sekumpulan informasi yang hanya diperoleh melalui ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang berisikan makna bahwa Allah Maha Kuasa menciptakan segala sesuatu termasuk takdir.
b.        Dimensi Kemanusiaan
Sekumpulan ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang menginformasikan bahwa Allah memerintahkan kepada manusia untuk berusaha degan sungguh-sungguh untuk mencapai cita-citanya.[8]

Dari satu sisi manusia adalah makhluk musayyar sama seperti benda, tanaman-tanaman dan hewan; artinya tidak mempunyai kebebasan untuk menerima dan menolak. Semuanya telah dibentuk dan ditentukan. Dari sisi lain manusia adalah makhluk mukhayyar, artinya memiliki kebebasan untuk menerima dan menolak.
Hal-hal yang manusia tidak memiliki ikhtiar misalnya tentang kelahirannya didunia sebagai laki-laki atau perempuan, gerak-gerik reflex organ tubuhnya, warna kulitnya, ukuran tubuhnya tinggi atau pendek, kematiannya, dan lain-lain sebagiannya yang manusia sama sekali tidak punya hak menerima dan menolak. Untuk ha-hal seperti itu Allah SWT sama sekali tidak pernah meminta pertanggungjawaban.
Dari uraian diatas jelaslah bagi kita bahwa untuk hal-hal yang ikhtiayari sifatnya, seseorang tidak bisa menjadikan taqdir sebagai alasan untuk menghindar dari tanggung jawab.[9]
Kesadaran manusia untuk beragama merupakan kesadaran akan kelemahan dirinya. Terkait dengaan fenomena takdir, maka wujud kelemahan manusia itu ialah ketidaktahuannya akan takdirnya. Manusa tidak tahu apa yang sebenanya akan terjai. Kemampuan berpikirnya memang dapat membawa dirinya kepada perhitungan, proyeksi dan perencanaan yang canggih. Namun, setelah diusahakan realisasinya tidak selalu sesuai dengan keinginannya. Manusia hanya tahu takdirnya setelah terjadi.
Oleh sebsb itu, sekiranya manusia menginginkan perubhan kondisi dalam menjalsni hidup di dunia ini, manusia diperintah oleh Allah untuk berusaha dan berdo’a untuk merubahnya. Jika usahanya berhasil, manusia dilarang untuk menepuk dada sebagai hasil karya sendiri, bahkan ketika usahanya dianggap gagal dan manusia itu bersedih dan menganggap dirinya sumber kegagalan, maka Allah juga menganggap hal itu sebagai kesombongan.
Kesimpulannya, karena manusia itu lemah (tidak tahu akan takdirnya) maka diwajibkan untuk berusaha secara bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan hidupnya yaitu beribadah kepada Allah. Dalam menjalani hidupnya, manusia diberikan pegangan baru.[10]


BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

1.      Takdir yang dimaksud disini adalah ketentuan Allah SWT sejak dahulu kala atas segala sesuatu yang pasti akan terjadi sesuai dengan ilmu dan kehendak-Nya.
2.      Macam-macam takdir :
a.       Takdir Azali
b.      Takdir ‘Umuri
c.       Takdir Sanawi (tahuan)
3.      Tingkatan-tingkatan Takdir
a.       Al-Ilmu
b.      Al-Kitabah
c.       Al-Msyiah
d.      Al-Khalq
4.      Manusia diwajibkan untuk berusaha secara bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan hidupnya yaitu beribadah kepada Allah dalam menjalani hidupnya.

DAFTAR PUSTAKA

Chirzin, Muhammad .1997.Konsep Dan Hikmah Akidah Islam. Yogyakarta : Mitra
Pustaka.
Ilyas, Yunahar.1995.Kuliah Aqidah Islam. Yogyakarta: LPPI UMY
Musthofa,dkk, 2005.Tauhid. Yogyakarta : Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga.
Sirait, Sangkot. 2013.Tauhid Dan Pembelajarannya.Yogyakarta :FITK UIN Sunan
Kalijaga.
Tim Ahli Ilmu Tauhid, 2008.Kitab Tauhid. Jakarta: Darul Haq.
Zainuddin. 1996.Ilmu Tauhid Lengkap. Jakarta : PT Rineka Cipta.



[1] Muhammad Chirzin, Konsep Dan Hikmah Akidah Islam. Yogyakarta : Mitra Pustaka, 1997, Hlm 105-106
[2] Musthofa,dkk, Tauhid. Yogyakarta : Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga, 2005, Hlm 56
[3] Muhammad Chirzin, Konsep Dan Hikmah Akidah Islam. Yogyakarta : Mitra Pustaka, 1997, Hlm 105-106
[4] Zainuddin, Ilmu Tauhid Lengkap, Jakarta : PT Rineka Cipta, 1996, hlm 132
[5] Musthofa,dkk, Tauhid. Yogyakarta : Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga, 2005, Hlm 44
[6] Tim Ahli Ilmu Tauhid, Kitab Tauhid, (Jakarta: Darul Haq, 2008), hal171.
[7] Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam, Yogyakarta: LPPI UMY, 1995, Hlm 178-181
[8] Sangkot Sirait, Tauhid Dan Pembelajarannya.Yogyakarta :FITK UIN Sunan Kalijaga. 2013, Hlm 93
[9] Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam, Yogyakarta: LPPI UMY, 1995, Hlm 183-185
[10] Sangkot Sirait, Tauhid Dan Pembelajarannya.Yogyakarta :FITK UIN Sunan Kalijaga.2013. Hlm 93