TAKDIR
DALAM PENINGKATAN SDM
Makalah ini disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah
Tauhid
Dosen Pengampu : Ana Fitrotun Nisa, M.Pd.I
Oleh :
Alfiyatun Khasanah (13480034)
Iswatun Khoiriah (13480090)
PENDIDIKAN
GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS
ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN
SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2014
KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikum
Wr.Wb
Alhamdulillahirabbil
‘alamin. Tak hentinya ucap syukur kepada Allah SWT yang selalu memberikan
rahmat serta hidayah-Nya sehingga penyusunan makalah “Takdir dalam pengembangan
SDM” ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Kami menyadari bahwa makalah ini
masih belum sempurna dan mempunyai banyak kekurangan, untuk kami mohon
agar para pembaca dapat memberikan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan
makalah ini.
Makalah ini di harapkan dapat
bermanfaat dan digunakan oleh kita semua, banyak kurangnya kami mohon maaf.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Yogyakarta,
16 November 2014
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Beriman kepada
takdir adalah satu dari pokok-pokok keyakinan yang ditanamkan dalam hati setiap
muslimin. Rasulullah SAW menyebut iman kepada takdir sebagai bagian dari rukun
iman yang ke-enam.
Tuhan adalah pencipta
alam semesta, termasuk di dalamnya manusia sendiri. Selanjutnya Tuhan bersifat
Maha Kuasa dan mempunyai kehendak yang bersifat mutlak. Disini timbullah
pertanyaan sampai dimanakah manusia sebagai ciptaan Tuhan, bergantung pada
kehendak mutlak Tuhan dalam menentukan perjalanan hidupnya? Apakah Tuhan
memberi kebebasan kepada manusia dalam mengatur hidupnya ataukah manusia
terikat seluruhnya pada kehendak dan kekuasaan mutlak Tuhan. Dan bagaimana
konsep yang benar mengenai takdir agar mampu meningkatkan kualitas SDM. Hal
inilah yang akan dibahas pada makalah yang berjudul “Takdir dalam Meningkatkan
Kualitas SDM”.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
peengertian Takdir ?
2. Apa
saja macam-macam Takdir ?
3. Apa
saja tingkatan Takdir?
4. Bagaimana
konsep takdir dalam peningkatan SDM ?
C.
Tujuan
Penulisan
1. Dapat
mengetahui pengertian Takdir.
2. Mengetahui
macam-macam Takdir.
3. Mengetahui
tingkatan Takdir.
4. Mengetahui
konsep Takdir dalam peningkatan SDM.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Takdir
Takdir dipercayai sebagai bagian dari iman yang
harus diyakini keberadaannya oleh setiap muslim. Takdir yang dimaksud disini
adalah ketentuan Allah SWT sejak dahulu kala atas segala sesuatu yang pasti
akan terjadi sesuai dengan ilmu dan kehendak-Nya.
Takdir
menurut arti bahasa maksudnya memiliki makna-makna tersembunyi, الحكم (hukum), القضاء (ketetapan),
الظاقلة(kekuatan, daya, potensi),
المقيا س )ukuran(, التحد يد ) batasan
atau ketentuan( yang ada pada
sesuatu. Setiap unsur terkecil di alam semesta memiliki hukum atau takdirnya
masing-masing yang telah ditetapkan oleh Allah secara rinci dan detail yang
berarti juga memiliki hukum, potensi, sifat dan karakteristiknya masing-masing.
$¯RÎ) ¨@ä. >äóÓx« çm»oYø)n=yz 9ys)Î/ ÇÍÒÈ
Sesungguhnya segala sesuatu kami
ciptakan serba berukuan (al Qamar 54:49)
Takdir
menurut istilah ialah peraturan yang dibuat Tuhan untuk yang segala maujud di
alam semesta, yang merupakan undang-undang umum atau kepastian-kepastian yang
berkaitan di dalamnya antra sebab dengan musababnya atau antara sebab dan
akibatnya.
Takdir
bukanlah paksaan dari Allah sebab semua manusia dapat mnentukan pilihan baik
dan buruk untuk dirinya sendiri kalau mau.
Jika dikaitkan
dengan Qadha’ dan Qadar Allah yang sesuai dengan rukun iman yang ke-enam ialah
iman kepada Qadha’ ialah kepastian, dan Qadar ialah ketentuan. Keduanya
ditetapkan oleh Allah SWT untuk seluruh makhluk-Nya. Sedangkan maksudnya
beriman kepada Qadha’ dan Qadar, artinya setiap manusia (muslim dan muslimat)
wajib mempunyai niat dan keyakinan sungguh-sunggh bahwa segala perbuatan
makhluk, sengaja maupun tidak sengaja telah ditetapkan olah Allah SWT. Sejak
zaman azali, ketentuan itu telah ditulis didalam Lauh Mahfuzh (papan tulis yang
terpelihara). Jadi, semua yang akan terjadi sedang atau sudah terjadi di dunia
ini semuanya sudah diketahui oleh Allah SWT, jauh sebelum hal itu sendiri
terjadi.
B.
Macam-macam Takdir
Takdir dibagi
menjadi dua hal yang saling berlawanan, yakni takdir yang tetap (mubram,
hatami dan musayyar) dan takdir yang berubah (ghairu mubram atau
mu’allaq, dan mukhayyar). Hal ini mengandaikan adanya sesuatu yang
ada di dunia ini yang tidak bisa berubah di satu sisi tetapi di sisi lain ada
sesuatu yang dapat berubah. Padahal segala sesuatu yang ada di dunia ini saing
pengaruh mempengaruhi dan akan hancur, ini berarti segala sesuatu itu bisa
berubah dan akan selalu berubah hingga sampai pada kehancurannya.
Takdir beberapa
macam, semuanya termasuk kandungan dari tulisan takdir umum dan semuanya
kembali kepada ilmu Allah SWT yang mutlak serta mencakup segala sesuatu.
a.
Takdir Azali
Meliputi
segala hal dimana sebelum terciptanya langit dan bumi, ketika Allah menciptakan
al-qalam dan memerintahkannya menulis segala apa yang ada sampai hari
kiamat (QS. Al Hadid : 22).
b. Takdir
‘Umuri
Takdir yang
diberlakukan atas manusia pada awal penciptaannya, rizkinya, perbuatannya,
kebahagiaan dan kesengsaraan.
c. Takdir
Sanawi (tahunan)
Takdir yang
dicatat pada malam lailatul qadar setiap tahun. Para mufassir
menyebutkan bahwa pada malam itu ditulislah semua apa yang akan terjadi pada
satu tahun, mulai dari kebaikan, keburukan, rizki, ajal, untuk memilah kejadian
dan peristiwa dalam satu tahun, yang kesemuanya telah dicatat dalam lauhul
mahfudz (QS Adh Dukhan : 4-5).
C. Tingkatan-tingkatan
Takdir
Takdir atau Qadar mempunyai empat tingkatan :
1.
Al-Ilmu
Allah SWT
Maha Mengetahui segala sesuatu. Dia mengetahui apa yang telah terjadi, yang
sedang terjadi dan yang akan terjadi. Tidak satupun luput dari ilmu Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
uqèd
ª!$#
Ï%©!$#
Iw tm»s9Î)
wÎ)
uqèd
( ÞOÎ=»tã
É=øtóø9$#
Íoy»yg¤±9$#ur
( uqèd
ß`»oH÷q§9$#
ÞOÏm§9$#
Dialah
Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah
yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.(Al-Hasyr:59:22)
2.
Al-Kitabah
Allah SWT ynag Maha Mengetahui telah
menuliskan segala sesuatu di Lauh Mahfuzh, dan tulisan itu tetap ada sampai
hari Kiamat. Apa yang telah terjadi di masa
yang lalu, dan apa yang terjadi sekarang, dan apa yang akan terjadi pada masa
yang akan datang sudah dituliskan oleh Allah SWT di Lauh Mafuzh. Allah SWT
berfirman:
óOs9r&
öNn=÷ès?
cr&
©!$#
ãNn=÷èt
$tB
Îû
Ïä!$yJ¡¡9$#
ÇÚöF{$#ur
3 ¨bÎ)
Ï9ºs
Îû
A=»tFÏ.
4 ¨bÎ)
y7Ï9ºs
n?tã
«!$#
×Å¡o
Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Sesungguhnya
Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang
demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang
demikian itu Amat mudah bagi Allah.(Al-Hajj 22:70)
3.
Al-Msyiah
Allah SWT
mempunyai kehendak terhadap segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Tidak
ada sesuatupun yang terjadi kecuali kehendak-Nya. Apa-apa yang tidak
dikehendaki oleh Allah SWT pasti tidak akan terjadi. Di dalam Al-Qur’an banyak
sekali ayat-ayat yang menunjukkan masyiatullah yang mutlak. Artinya kalau Allah
menghendaki sesuatu tidak ada yang bisa menghalangi kehendak-Nya itu. Begitu
juga sebaliknya, kehendak siapapun tidak akn terjadi kalau tidak dikehendaki
oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman:
$tBur tbrâä!$t±n@
HwÎ)
br&
uä!$t±o
ª!$#
4 ¨bÎ)
©!$#
tb%x.
$¸JÎ=tã
$VJÅ3ym
Dan
kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah.
Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana (Al-Insan 76:30)
4.
Al-Khalq
Bahwa tidak sesuatu pun di langit
dan di bumi melainkan Allah sebagai penciptanya, pemiliknya, pengaturnya dan
menguasainya, dalam firman-Nya dijelaskan :
إِنَّا
أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصاً لَّهُ
الدِّينَ
“Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab dengan kebenaran. Maka
sembahlah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya”. (QS. Az-Zumar : 2
Iman kepada Taqdir mencakup keempat tingkatan diatas.
Artinya segala perbuatan, perkataan termasuk segala hal yang tidak dilakukan
manusia diketahui, dituliskan, dikehendaki dan diciptakan oleh Allah SWT.
D. Konsep
takdir dalam peningkatan SDM.
Ada dua
dimensi pemahaman tentang takdir yaitu :
a.
Dimensi Ketuhanan
Yaitu
sekumpulan informasi yang hanya diperoleh melalui ayat-ayat dalam Al-Qur’an
yang berisikan makna bahwa Allah Maha Kuasa menciptakan segala sesuatu termasuk
takdir.
b.
Dimensi Kemanusiaan
Sekumpulan
ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang menginformasikan bahwa Allah memerintahkan
kepada manusia untuk berusaha degan sungguh-sungguh untuk mencapai
cita-citanya.
Dari satu sisi manusia adalah makhluk musayyar
sama seperti benda, tanaman-tanaman dan hewan; artinya tidak mempunyai kebebasan
untuk menerima dan menolak. Semuanya telah dibentuk dan ditentukan. Dari sisi
lain manusia adalah makhluk mukhayyar,
artinya memiliki kebebasan untuk menerima dan menolak.
Hal-hal yang manusia tidak memiliki ikhtiar
misalnya tentang kelahirannya didunia sebagai laki-laki atau perempuan,
gerak-gerik reflex organ tubuhnya, warna kulitnya, ukuran tubuhnya tinggi atau
pendek, kematiannya, dan lain-lain sebagiannya yang manusia sama sekali tidak
punya hak menerima dan menolak. Untuk ha-hal seperti itu Allah SWT sama sekali
tidak pernah meminta pertanggungjawaban.
Dari uraian diatas jelaslah bagi kita bahwa untuk hal-hal yang ikhtiayari sifatnya, seseorang tidak
bisa menjadikan taqdir sebagai alasan untuk menghindar dari tanggung jawab.
Kesadaran
manusia untuk beragama merupakan kesadaran akan kelemahan dirinya. Terkait
dengaan fenomena takdir, maka wujud kelemahan manusia itu ialah
ketidaktahuannya akan takdirnya. Manusa tidak tahu apa yang sebenanya akan
terjai. Kemampuan berpikirnya memang dapat membawa dirinya kepada perhitungan,
proyeksi dan perencanaan yang canggih. Namun, setelah diusahakan realisasinya
tidak selalu sesuai dengan keinginannya. Manusia hanya tahu takdirnya setelah
terjadi.
Oleh sebsb
itu, sekiranya manusia menginginkan perubhan kondisi dalam menjalsni hidup di
dunia ini, manusia diperintah oleh Allah untuk berusaha dan berdo’a untuk
merubahnya. Jika usahanya berhasil, manusia dilarang untuk menepuk dada sebagai
hasil karya sendiri, bahkan ketika usahanya dianggap gagal dan manusia itu bersedih
dan menganggap dirinya sumber kegagalan, maka Allah juga menganggap hal itu
sebagai kesombongan.
Kesimpulannya,
karena manusia itu lemah (tidak tahu akan takdirnya) maka diwajibkan untuk
berusaha secara bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan hidupnya yaitu
beribadah kepada Allah. Dalam menjalani hidupnya, manusia diberikan pegangan baru.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
1.
Takdir yang
dimaksud disini adalah ketentuan Allah SWT sejak dahulu kala atas segala
sesuatu yang pasti akan terjadi sesuai dengan ilmu dan kehendak-Nya.
2.
Macam-macam takdir :
a.
Takdir Azali
b. Takdir
‘Umuri
c. Takdir
Sanawi (tahuan)
3. Tingkatan-tingkatan
Takdir
a.
Al-Ilmu
b.
Al-Kitabah
c.
Al-Msyiah
d.
Al-Khalq
4. Manusia
diwajibkan untuk berusaha secara bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan
hidupnya yaitu beribadah kepada Allah dalam menjalani hidupnya.
DAFTAR PUSTAKA
Muhammad Chirzin, Konsep Dan Hikmah Akidah Islam. Yogyakarta : Mitra Pustaka, 1997,
Hlm 105-106