Hari itu, Rabu 3 Agustus 2016...
Seperti biasa setiap hari di pagi hari ku berangkat ke
sekolah PPL yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Kurang lebih sekitar 20 KM
jarak godean ke Giriloyo Imogiri.
Setelah selesai pelajaran, aku bergegas pulang tuk menyiapkan
keperluan mengajar untuk hari kamis berupa RPP dan pendukung pembelajaran kelas
IV. setibanya dirumah sekitar pukul 2 lebih, kurebahkan sebentar badan kemudian menyalakan laptop.
Sekitar ba’da Ashar ibuku memanggilku untuk pergi membelikan
tinta isi ulang untuk printer ibuku, akupun menjawab “nanti sekalian saja bu,
aku juga mau pergi fotocopy dan menunggu sasa (saudara kembarku) pulang dari
kampus.
Selain itu, ada pesan masuk juga dari konter servis hp di
daerah ring road gamping untuk melihat hp ku yang tempo hari rusak hilang
sinyal nya dan ku bawa kesana.
Sudah hampir maghrib tetapi sasa belum juga pulang, ibuku
memanggilku lagi, sepertinya ibuku mengatakan seperti ini ”mbak iis sekarang
saja sebelum gelap" “ tapi ku jawab lagi, sebentar lagi sasa pulang bu"..
Adzan maghrib berkumandang, sasa pun tak lama pulang,
setelah sholat aku dan sasa bergegas keluar kamar ku di lantai dua dan turun
untuk meminta uang, kulihat di meja ada kotak brownis langsung saja ku makan
(belum sempat makan, sok sibuk ngerjain) kemudian pergi dengan banyak rencana.
Berangkatlah kami dari rumah sekitar pukul 18.15 WIB, aku
yang membawa motor dan sasa ku bonceng dibelakang posisi miring bukan melangkah
karena dia pakai rok.
Masih teringat waktu itu kita lewat jalan yang biasanya, tak
ada firasat apapun, dan sudah membaca doa (insyaallah). Dari arah utara sebelum
perempatan (ringin wetan kami menyebutnya) ada sebuah truk sampah disdepan
kami, dengan santai kamipun menyalipnya, kemudian berjalan lagi kearah patukan,
tak lama kemudian aku merasa melihat sebuah kecelakaan dan aku membantu
menolong korban.
Entah apa yang sebenarnya terjadipun aku tak mengerti,
mungkin aku tak sadarkan diri.
Yang ku ingat, ada banyak orang dan aku merintih kesakitan.
Ku dengar suara laki-laki mengatakan padaku “mbak, istighfar mbak, ini sudah
perjalanan ke rumah sakit”.
Aku pun tak sadarkan diri lagi, aku mulai sadar sudah di IGD
RS PKU Gamping yang letaknya tak jauh dari tempat kejadian.
(foto ketika kami di IGD)
Di IGD aku seperti setengah sadar, ibuku datang dan tanteku,
ku ingat apa yang ku katakan pada mereka yakni aku minta maaf jika ada salah, bagaimana
aku besok, dan adik perempuanku pun malah ku tanyakan bagaimana kondisi sepeda
motor yang kupakai.
Di ranjang sampingku kudengar sasa juga merintih kesakitan,
dia diijinkan pulang, aku[pun langsung berteriak “sasa disini saja, temenin
aku”..
Berulangkali aku tak sadarkan diri, sahabatku Ipah
mendatangiku, dengan nyletuk aku bilang padanya “Pah, besok kalau aku gak bisa
jalan, tolongin aku”, entah kenapa aku bilang seperti itu.
Ada pula teman lain yang datang, kulihat ada anin namun
hanya sekilas, mas yunus hanya tersenyum kepadaku, ada juga adam.
Saat perjalanan ke ruang operasi, ku ingat ibuku memegangi
ranjangku, dan sesekali membisiki untuk terus berdzikir minta pertolongan
Allah.
Masuk keruang operasi kulihat mas yunus mengatakan untuk aku
sabar sambil tersenyum kecil, akupun hanya bisa mengedipkan mata.
Sampai di ruang operasi, kulihat dokter membaca hasil
rontgenku, kulihat tulang tangan kakanku patah, kemudian para perawat
mengeksekusi dengan memegangi tangan kiriku yang saat itu kulihat tulang jari
tengahnya mencuat keluar dan dagingnya pun mengelupas serta menyuntikkan
anestesi atau bius. Aku ditanya “apakah aku sudah mengantuk?” “belum” jawabku
lantang. Kudengar juga para perawat bergurau karena mau memotong
bajuku, celanaku dan jaketku karena tidak mungkin melepasnya dengan biasa,
sontak akupun binag “emoh” dan ku tanya juga “mana kakiku?” (ha? Kaki? Entah
reflek atau apa aku juga tak sadar kenapa aku bilang gitu ya?” //mungkin sebenarnya alam bawah sadarku merasakan bila ada yang terjadi pada kakiku//
Hari kamis telah tiba, aku sudah di ruang rawat, saat itu
kulihat sasa juga terbaring di ranjang sebelah kiriku. Aku tersadar dan tak
sadarkan diri, ku ingat aku sadar hanya diberi minum dan sering muntah (katanya
aku muntah berwarna hitam, mungkin karena sebelum pergi aku makan brownies).
Aku pun menolak untuk minum karena mual terus dan muntah
terus.
Banyak yang datang mengunjungiku pagi itu, aku tak tahu
pukul berapa, dan siapa saja yang datang hanya sekilas kulihat kemudian aku
tertidur lagi.
Waktu berlalu, hari sudah sore, kala itu aku merasakan kasur
ku basah, kubilang ke ibuku “buk kasurnya basah” kemudian ibuku melihatnya
ternyata selang air kencing ny alepas dan itu adalah ompol.
Langsung ibuku menyusul perawat untuk mengganti sprei dan
bajuku.... dan saat itulah aku tahu kakiku sudah tak utuh lagi ;(
Badanku sangat sulit digerakkan, bahkan untuk miring saja
sakit. Tangan kananku di gips dan tangan kiriku infus, bahkan kaki kiriku pun
dipasangi infus...betapa sulitnya untuk bergerak.
